BECOME A WORLD CLASS UNIVERSITY

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beranjak menuju universitas kelas dunia. Welcome to the world community.

Berprikir Kreatif

Untuk memecahkan problem social.

Berpretasi

Sebagai agen of change, mahasiswa bidikmisi harus berprestasi dalam segala bidang.

Indonesia Jaya

Yang muda yang berkarya.

Indonesia Jaya

Yang muda yang berkarya.

Selasa, 01 Juli 2014

Edy Fajar Prasetyo, Sulap Plastik Jadi Barang Cantik

Banyak dampak negatif dari limbah plastik yang terbuang. Selain dapat mengakibatkan banjir, limbah plastik yang tertimbun di tanah juga mengakibatkan tanah tandus. Hal itulah yang membuat keprihatinan Edy Fajar Prasetyo (21) untuk memanfaatkan limbah plastik menjadi Ebi Bag, Ebi Souvenir, dan Ebi Wallet (dompet), kerajinan tangan cantik nan bernilai jual tinggi.
 
Sudah dua tahun Mahasiswa Jurusan Agribisnis semester 6 ini menekuni pemanfaatan limbah plastik. Semuanya  bermula dari keprihatinan Edy melihat limbah-limbah plastik yang masih kurang diperhatikan. “Secara tidak sadar, dalam sehari kita bisa menghasilkan dua puluh jenis sampah. Dari ujung rambut sampai bawah kaki,” katanya, Jumat (20/6).

Kerajinan pemanfaatan limbah plastik sebenarnya bukan barang baru. Sudah banyak yang mengenal dan memproduksi kerajinan ini. Umumnya, plastik-plastik yang akan dibuat menjadi tas, souvenir, atau dompet adalah plastik-plastik bekas bungkus kopi dan semacamnya. Plastik-plastik itu kemudian dibersihkan, dikeringkan, lalu dipilah sesuai produk kerajinan yang akan dibuat.

Begitu pun dengan kerajinan plastik milik Edy, bedanya pada motif. Pada kerajinan plastik buatan Edy, motif tas, souvenir, atau dompet dibentuk dari plastik-plastik bekas bungkus kopi tersebut. Setelah melalui beberapa fase, plastik-plastik itu kemudian dianyam sehingga menjadi motif-motif unik dan menarik.

Hasil kerajinan yang telah diproduksi, Edy jual lewat media sosial atau pada acara-acara expo. Per satu tas, bisa dihargai Rp100-200 ribu. Selain itu, Edy juga memfasilitasi pelatihan enterpreneur muda yang fokus di bidang lingkungan lewat GEO (Green Enterpreneur Organizer).

Meski begitu, sebenarnya bukan hanya harga jual yang tinggi dari usahanya itu. Namun bagi Edi, yang lebih penting adalah nilai pemberdayaan lingkungan, atau yang ia sebut SELUNDUP (Sedekah Lingkungan Hidup).

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, berwirausaha sudah sudah menjadi hal biasa bagi pria berkacamata ini.  Ketika itu, Edy berjualan stiker di sekolah. Semasa SMP, Edy juga berjualan kopi dan gorengan di sekolah. Sedangkan semasa SMA, ia pun pernah berjualan nasi uduk di kelas. Karena itu, saat lulus SMA ia didaulat sebagai siswa berprestasi bidang kewirausahaan.

Tak pernah terbayangkan dalam benak anak kelima dari enam bersaudara ini menjadi seorang wirausaha muda. Semasa SMA, dalam benak Edy hanya ingin melanjutkan kedunia kerja. Alasan utama tentu karena urusan finansial. Ditambah ia hidup bersama kelima saudaranya.

Mulanya, pasca Ujian Nasional (UN), ia hanya coba-coba ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Edy mengaku, tak ada persiapan khusus untuk kelulusannya di SNMPTN. Bahkan, ketika teman-temannya tengah sibuk mempersiapkan SNMPTN itu, ia justru disibukkan dengan pekerjaannya.

“Pernah ikut SNMPTN, cuma karena saya enggak ikut bimbel, saya belajar ke temen saya yang ikut bimbel. Dengan modal itu, bismilah, saya pilih jurusan yang jarang dilirik mahasiswa lain, tapi masih prospek,” kenangnya. Tak disangka, ternyata ia diterima masuk UIN Jakarta.

Bersama kelima temannya, Eli, Nadya, Andis, Alfi, dan Imas , sudah banyak prestasi yang Edy peroleh. Pada 2012, ia menyabet juara di Bank Indonesia Green Entrepreneur. Di tahun yang sama, Edy juga menjadi juara Wirausaha Mapan yang diadakan pemkot DKI Jakarta. Juga sempat menjadi finalis di Social Entrepreneur Academy pada 2014.

Tak hanya penghargaan, produk yang Edy dan temen-temannya buat juga telah dipasarkan di dalam maupun di luar negeri. Pada 2013, setelah bersaing ketat dengan beberapa kampus ternama seperti ITB, IPB, UNJ, dan UI, kerajinan plastik Edy dan teman-temannya di bawa ke APEC Unthinkable Expo. Kemudian pernah dibawa ke ajang International Exhibition di Pakistan.

Meski banyak prestasi yang sudah ia peroleh, namun tak mudah bagi alumnus SMAN 1 Boedi Oetomo ini menjalani wirausahanya. Tak jarang ia mengalami kendala baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) maupun finansial.

Pernah suatu ketika, uang senilai Rp5 juta yang ia peroleh dari hasil kerja kerasnya memenangi kompetisi wirausaha raib di bawa salah satu rekan bisnisnya ketika Edy mencoba berwirausaha ke produk makanan. Selain itu, sedikitnya anggota yang tergabung dalam komunitasnya juga menjadi kendala lain. “Secara teknik, kita masih butuh tenaga ahli juga,” ujarnya.

Berani mengambil risiko telah menjadi prinsip pria yang dulu pernah bercita-cita menjadi pemain bola ini. Menurutnya, tak ada usaha yang lebih baik kecuali hanya satu, yakni menjalaninya. “Jangan pernah takut untuk memulai usaha. Selalu haus akan pengetahuan,” katanya.

Edy Fajar Prasetyo merupakan mahasiswa Bidikmisi angkatan 2011, Jurusan Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta, yang telah menjuarai berbagai kompetisi wirausaha. Paling terakhir ia menjuarai kompetisi wirausaha yang diadakan oleh BI, yang kemudian mengantarkannya menjadi perwakilan mahasiswa dalam Expo Apec 2013 di Bali.  

Sumber: www.lpminstitut.com

Kamis, 19 Juni 2014

UIN Jakarta Kedatangan Tamu Dari Bandung

                Ma'had UIN Jakarta, FORMABI Online www.uinjkt.ac.id -
Pada tanggal 17 Juni 2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kedatangan tamu dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung yang berjumalh 120  mahasiswa dan mahasiswi dalam rangka study banding UIN Sunan Gunung Jati Bandung dari Banten ke Jakarta. Kedatangan mahasiswa dari UIN Bandung hanya berlangsung selama 4jam di Aula Ma’had Ali UIN Syarif Hidayatullah. Dalam acara tersebut juga hadir beberapa petinggi dari UIN Bandung dan UIN Jakarta diantaranya dari pihak UIN Jakarta sendiri yaitu Amellya Hidayat, Abdul Rozak dan dari pihak UIN Bandung yaitu kasubag UIN Bandung , bapak Asep Syaefurahman dan ketua bidikmisi angkatan 2013, Asep Jamaluddin.
            Selama acara berlangsung UIN Jakarta dan UIN Bandung saling bertukar pikiran dan berbagi informasi satu sama lain. Asep Jamalludin berkata, “teman-teman penerima bidikmisi adalah orang-orang pilihan yang bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi ini”. Dan tak lupa kassubag UIN Sunan Gunung Jati Bandung menyampaikan informasi mengenai beasiswa baru yang diberikan oleh walikota Bandung, 200-500 orang berhak menerima beasiswa S1 dan 30orang yang berhak menerima beasiswa S2. Dan tak lupa Ibu Amellya Hidayat selaku pihak kemahasiswaan dari UIN Jakarta memberikan sedikit guyonan kepada mahasiswa nd mahasiswi yang hadir dalam acara tersebut, beliau juga berkata bahwa penerima beasiswa bidikmisi tidak hanya digratiskan membayar uang kuliah dan mendapat living cost tiap bulannya tapi di asrama para penerima beasiswa bidikmisi juga bisa mendapat keluarga baru, bisa belajar bersama dan bisa diajar oleh orang-orang besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan tak lupa pak Absul Rozak menyampaikan pesannya bagi seluruh mahasiswa untuk meningkatkan kualitas dan pengabdian kepada masyarakat dan jadilah orang yang bermanfaat bagi banyak orang dan mampu bersaing di dalam negeri maupun luar negeri.

            Pada pukul 17:30 acara ditutup dengan penyerahan cinderamata dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung kepada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Lia'13)
 

Senin, 09 Juni 2014

REKTOR UIN JAKARTA BUKA SIMPOSIUM NASIONAL BIDIKMISI PTAIN se-Indonesia

Kampus II, Formabi Online—Senin, 9 Juni 2014 bertempat di Convention Hall Syahida Inn Kampus II, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membuka secara langsung Simposium Nasional Bidikmisi PTAIN se-Indonesia. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Rektor, disusul oleh Prof. Dr. Moh. Matsna, MA dan Kabiro AAKK, Drs. Zaenal Arifin, M.Pd.I.

Acara pembukaan yang bertema besar “Menyiapkan Pemimpin Masa Depan, Meretas Batas Menggapai Impian” ini dimulai pukul 08.00 dan berjalan dengan lancar. Diawali dengan pembacaan kalam ilahi oleh Febri Budimantoro (mahasiswa Bidikmisi tahun 2013, juara I MTQ Nasional tahun 2013 di Semarang), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UIN. Kemudian welcoming speech dan pembukaan oleh Rektor.

Dalam sambutan sekaligus pidato keynote speechnya, Rektor menjelaskan bahwa sejatinya manusia memang berkompetisi dari sejak lahir. Beliau juga mengatakan bahwa pemimpin masa depan hendaklah meretas batas, yaitu batas-batas ideologi dan batas-batas moralitas. Selanjutnya, beliau juga berpesan agar mahasiswa selalu memperkaya hati, dan tidak memperkaya materi.

Acara dilanjutkan dengan performance mahasiswa Bidikmisi UIN Jakarta dengan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku dan Maluku Tanah Pusaka. Lagu Maluku Tanah Pusaka dipersembahkan untuk mahasiswa dari Indonesia Timur yang tidak bisa hadir dalam acara Simposium Nasional ini.

Rencananya, kegiatan Simposium Nasional dan Rapat Tahunan Bidikmisi PTAIN se-Indonesia ini akan dilaksanakan sampai lima hari ke depan. (KU/FU)